Meningkatkan Sosial Anak Melalui Bergotong Royong

 

 

gotong-royong-di-meunasah1.jpgGotong royong dapat diartikan sebagai sesuatu sikap ataupun kegiatan yang ditakukan oleh anggota masyarakat secara kerjasama dan tolong menolong dalam menyelesaikan pekerjaan maupun masalah dengan sukarela tanpa adanya imbalan. Sikap gotong royong ini telah melekat pada diri masyarakat pedesaan dan merupakan kebiasaan turun temurun dari nenek moyang. Sikap gotong royong ini sangat berperan sekali untuk memperlancar pembangunan yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat. Kegiatan gotong royong yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat desa selama ini, perlu diarahkan dan dibina sedemikian rupa sehingga dapat menunjang pembangunan yang sedang dilaksanakan. Gotong royong dalam usaha meningkatkan produksi perlu digalakan dan hasilnya digunakan untuk pembangunan desa. Permasalahan yang ada sekarang ialah bagaimana cara memupuk kembali nilai-nilai gotong royong yang pernah hidup dengan kuatnya pada kehidupan masyarakat. Walaupun tidak berarti kita harus meampertahankan faktor pendorong adanya gotong royong tersebut. Gotong royong akan tetap hidup dikalangan masyarakat, tetapi berbeda latar belakangnya, bentuk dan sifat dari gotong royong itu sendiri perbedaan ini biasanya ditimbulkan oleh lingkungan masing-masing. Jadi sikap gotong royong dalam masyarakat yang melaksanakan pembangunan mengalami perubahan berbarengan dengan terjadinya perubahan -perubahan sosial yang berlangsung secara berkesinambungan dengan hasil-hasil penemuan manusia itu sendiri. Sementara itu orang-orang desa mulai menyadari dengan lebih mendalam akan perlunya kesempatan dan tata cara berpikir baru, perencanaan terhadap kerjasama utau gotong royong untuk memecahkan berbagai macam problema. Dengan itu mereka akan memperoleh pengalaman bahwa dengan bergotong royong itu akan melakukan hal-hal yang lebih banyak dan lebih efektif dari pada cara perseorangan.

Meningkatkan Motorik Kasar Melalui Berenang

Seseorang sedang berenang di kolam renang

Berenang gerakan sewaktu bergerak di air. Berenang biasanya dilakukan tanpa perlengkapan buatan. Kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk rekreasi dan olahraga. Berenang dipakai sewaktu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya di air, mencari ikan, mandi, atau melakukan olahraga air.

Berenang untuk keperluan rekreasi dan kompetisi dilakukan di kolam renang. Manusia juga berenang di sungai, danau, dan laut sebagai bentuk rekreasi. Olahraga renang membuat tubuh sehat karena hampir semua otot tubuh dipakai sewaktu berenang.

Meningkatkan Motorik Halus Anak Melalui Menulis

 

images.jpg

Definisi/Pengertian Menulis – Menulis menurut para ahli. Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Namun dengan semakin berkembangnya teknologi seperti saat ini, menulis juga bisa dilakukan dengan menggunakan komputer atau laptop. Banyak definisi / pengertian menulis yang di paparkan oleh para ahli. Untuk selengkapnya mengenai pengertian menulis menurut para ahli, silakan simak artikel di bawah ini.

Kemampuan yang dimiliki setiap individu berbeda-beda. Setiap kemampuan saling berhubungan membentuk suatu tindakan. Akhmad Sudrajat membagi kemampuan menjadi dua jenis, yaitu: a) actual ability, dan b) potential ability. Actual ability atau kecakapan nyata merupakan kecakapan yang diperoleh karena belajar yang dapat segera didemonstrasikan atau diuji sekarang. Potential ability atau kecakapan potensial merupakan aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri individu dan diperoleh dari faktor keturunan. Lebih lanjut menurut Robbins dalam menyatakan bahwa kemampuan terdiri dari dua faktor, yaitu a) kemampuan intelektual (intelectual ability), merupakan kemampuan melakukan aktivitas secara mental, b) kemampuan fisik (physical intellectual), merupakan kemampuan melakukan aktivitas berdasarkan stamina, kekuatan, dan karakteristik fisik.

Meningkatkan Motorik Halus Melalui Mengambar

 

images

Mengambar adalah bentuk seni rupa yang menggunakan sejumlah alat untuk menandai media dua dimensi. Instrumen yang digunakan meliputi pensil grafit, pena dan tinta, tinta kuas, pensil warna lilin, krayon, arang, kapur, pastel, berbagai jenis penghapus, spidol, styluses, berbagai logam (seperti Silverpoint) dan gambar elektronik. Seorang seniman yang praktek atau bekerja di gambar teknik dapat disebut drafter atau seorang juru.

Sedikit atau sejumlah kecil bahan dilepaskan ke permukaan, meninggalkan tanda yang dapat terlihat. Dukungan yang paling umum untuk menggambar adalah kertas, meskipun bahan lain, seperti karton, plastik, kulit, kanvas, dan papan, dapat digunakan.

Gambar sementara dapat dibuat di papan tulis blackboard atau whiteboard bahkan memang menggambar bisa dilakukan pada berbagai hal. Media ini telah menjadi sarana populer dan mendasar dari ekspresi publik sepanjang sejarah manusia. Ini adalah salah satu cara yang paling sederhana dan paling efisien mengkomunikasikan ide-ide visual. Ketersediaan macam instrumen menggambar membuat gambar salah satu kegiatan seni yang paling umum.

Menggambar adalah salah satu bentuk utama ekspresi dalam seni visual. Hal ini umumnya berkaitan dengan tanda garis dan bidang nada ke dalam kertas, di mana representasi akurat dari dunia visual dinyatakan di atas bidang. Gambar tradisional adalah gambar yang monokrom, atau setidaknya memiliki sedikit warna. Sementara gambar berwarna-pensil yang modern dapat mendekati batas antara menggambar dan melukis.

Dalam terminologi Barat, menggambar berbeda dengan melukis, meskipun media yang sama sering digunakan dalam keduanya. Media kering, biasanya terkait dengan gambar, seperti kapur, dapat digunakan dalam lukisan pastel.

Menggambar dapat dilakukan dengan media cair melibatkan pengaplikasian cat cair ke kanvas, diterapkan dengan kuas atau pena.

Dalam bidang di luar seni, gambar teknis atau rencana bangunan, mesin, sirkuit dan hal-hal lain yang sering disebut “gambar” bahkan ketika telah dipindahkan ke media lain dengan cara dicetak. Gambar mentah disebut juga sketsa.

Meningkatkan Agama anak melalui bermain

Dunia bermain adalah dunia yang penuh warna dan menyenangkan. Para pelaku permainan akan merasa terhibur dan senang dengan melakukannya. Dari kata “bermain” saja sudah menunjukan bahwa kegiatan ini berdampak memberikan penyegaran pikiran dari berbagai aktifivitas yang menjenuhkan. Bagi anak-anak, bermain memiliki peranan yang sangat penting. Beberapa pakar psikologi berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan, anak-anak akan terlatih secara fisik. Dengan demikian kemampuan kognitif dan sosialnyapun akan berkembang. Singkatnya, permainan dimasa kecil akan mempengaruhi pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa anak kelak. Suhendi (2001:8) yang  menjelaskan bahwa:

   Setiap diri manusia, baik anak-anak maupun orang dewasa terdapat hasrat untuk bermain. Seperti halnya kebutuhan bersosialisasi dan berkelompok, bermain merupakan hasrat yang mendasar pada diri manusia…Anak-anak ingin bermain karena saat itulah mereka mendapatkan berbagai pengalaman lewat bermain melalui eksplorasi alam disekitarnya. Dari kegiatan tersebut, mereka dapat mengenal alam dan teman sepermainan dalam suasana yang menyenangkan. Sementara orang dewasa membutuhkan permainan sebagai sarana relaksasi dan menghibur diri.

Dari pernyataan diatas, kita mengakui bahwa melalui kegiatan bermain berbagai kompetensi bidang pengembangan  dapat diperoleh khusunya untuk anak usia dini Kompetensi tersebut merupakan dasar pengembangan potensi anak kelak dikemudian hari. Pemilihan permainan yang berupa game-game menarik dan kreatif sangat menentukan pencapaian kompetensi-kompetensi diatas. Guru sebagai kreator, pemimpin dan pembimbing permainan di lembaga PAUD/RA/TK harus jeli dan kreatif mengoptimalkan permainan di sekolah agar bidang pengembangan dan kecerdasan anak dapat dioptimalkan.

Diperlukan wawasan yang luas bagi guru untuk terus menggali kemampuannya dalam memilih permainan yang kreatif, inovatif, tepat sasaran, sarat makna dan harus tetap menyenangkan.  Inilah yang menjadi masalah besar bagi guru-guru. Kurangnya informasi tambahan pengetahuan baik secara teori maupun praktek, terbatasnya kompetensi yang dimiliki guru sebagai akibat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki guru merupakan penyebab kurangnya kreatifitas guru dalam mengajar dengan menggunakan metoda permainan.

Berdasarkan kenyataan diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji mengenai metoda pembelajaran melalui permainan di lembaga PAUD/RA/TK sebagai usaha untuk memaksimalkan tugas perkembangan anak usia dini. Manfaat yang diperoleh guru setelah memahami tentang metode permainan ini adalah guru dapat menerapkan strategi belajar baik di dalam maupun kegiatan di luar kelas disesuaikan dengan tujuan bidang perkembangan anak. Diharapkan guru dapat lebih semangat untuk menambah ilmu baik secara teori maupun praktek. Usaha tersebut dapat diperoleh dari berbagai kegiatan baik yang berupa seminar, workshop maupun diklat. Kajian ini diberi judul metoda permainan dalam pembelajaran anak usia dini . Istilah Anak Usia Dini pada kajian ini dibatasi pada usia sekolah awal (PAUD/RA/TK) atau usia 4-6 tahun. Adapun rumusan masalahnya adalah Bagaimana metode permainan  dalam  pembelajaran Anak Usia Dini dilakukan?

KONSEP PERMAINAN UNTUK ANAK USIA DINI

  1. Pengertian

Pelaku permainan akan  mengalami dan merasakan manfaat secara langsung. Hal ini berbeda dengan kegiatan belajar diruang kelas yang lebih menonjolkan aspek kognitif. Meskipun demikian, kegiatan belajar yang efektif adalah dilakukan dengan belajar langsung, dimana siswa bisa merasakan dan mengalami langsung apa yang mereka pelajari. Kegiatan bermain dan belajar berbeda jika ditinjau secara akademis. Keterampilan akademis, seperti berhitung, menulis dan membaca biasa dikuasai dengan proses belajar di kelas. Meskipun demikian bukan berarti aktivitas bermain tidak berperan penting, keterampilan lain yang berhubungan dengan Basic Life Skill, seperti keterampilan berkomunikasi, bersosialisasi, bernegosiasi, dan bekerjasama dalam tim, bisa dipelajari dari proses bermain.

Dimata anak-anak, ada beberapa alasan kenapa permainan dibutuhkan sebagai media pembelajarnya. Menurut Sudono (2006: 20) beberapa alasan tersebut adalah sebagai berikut : (1) Anak-anak membutuhkan pengalaman yang kaya, bermakna, dan menarik, (2) Otak anak senang pada sesuatu yang baru dan hal hal baru yang menantang dan menarik, (3) Rangsangan otak sensori multimedia penting dalam pembelajaran. Makin   banyak yang terlibat (visual, audio, dan audio visual) dalam suatu aktivitas, makin besar pula kemungkinan siswa untuk belajar, (4) Anak umumnya senang bergerak, jadi jangan lupa memasukan gerak dalam pembelajaran, (5) Pengulangan adalah kunci belajar. Berikan kegiatan yang membuat siswa dapat mengulang pembelajaran tanpa rasa bosan dan jenuh, (6) Permainan (games) menyenangkan bagi anak. Keinginan untuk belajar dapat meningkat dengan adanya tantangan dan terhabat oleh ancaman yang disertai oleh rasa tidak mampu atau kelelahan

  1. Kompetensi yang dicapai melalui hasil permainan 

Permainan yang diselenggarakan dalam pembelajaran dapat meningkatkan kompetensi khsusnya kompetensi yang erat kaitannya dengan perkembangan anak. Ralibi (2008: 23) mengemukakan tentang kompetensi dari hasil permainan adalah sebagai berikut: (1) Self Awareness, yaitu kemampuan menyadari emosi dan pikiran di dalam diri sendiri serta menyadari tindakan apa yang harus dilakukan atas emosi yang sedang disadarinya.(2) Self Direction, yaitu kemampuan menggunakan pilihan-pilihan dalam mengahdapi persoalan.(3) Self Management, Yaitu keampuan mengelola ataumengorganisasi persoalan atautugas secara mandiri.(4) Empathy, kemampuan menyadari emosi yang dirasakan oleh orang lain. (5) Assertive, yaitu kemampuan mengkondisikan  diri diantara perilaku submisif (cenderung mengikuti) dan agresif. (6) Followership, yaitu kemampuan memosisikan diri untuk dipimpin orang lain. (7) Craetive Thinking, yaitu kemampuan berpikir dengan car memadukan pengalaman pikiran dan tindakannya dalam menghadapi persoalan. (8) Team Work, yaitu kemampuan bekerjasama dalam sebuah tim. (9) Problem Solving, yaitu kemampuan memecahkan persoalan. (10) Oppeness, yaitu kemampuan membuka diri terhadap oranglain. (11) Team Spirit. yaitu kemampuan menghidupkan semangat secara kolektif. (12) Effective Comunication, yaitu kemampuan berinteraksi satu sama lain secara verbal maupun non verbal. (13) Self Communication, yaitu kemampuan beinteraksi satu sama lain baik secara verbal maupun nonverbal. (14) Self Motivation, yaitu kemampuan memacu motivasi di dalam diri

3.  Syarat pemilihan dan penggunaan alat dan bahan permainan

  Selain permainan yang dapat dilaksanakan tanpa bantuan alat, permainan juga dapat dilakukan dengan alat bantu alat permainan. Beberapa   aspek   yang   perlu   diperhatikan   dalam   memilih   bahan  dan   peralatan   belajar   dan   bermain   anak yaitu:

  1. Pilih alat atau bahan yang mengundang perhatian anak,   Alat    dan   bahan    dapat  memuaskan  kebutuhan     anak,   menarik minat   dan   menyentuh   perasaan   mereka   baik   dari   warna,   jenis,   bentuk, ukuran   atau   berat.   Jenis   dan   bentuk   alat   belajar   juga   akan   berpengaruh          terhadap   perkembangan   belajar   anak.  Oleh karena   itu   pilih   yang   bobotnya tidak    terlalu   berat   sehingga    anak    mudah     memindah-mindahkannya, kecuali memang peralatan tersebut dirancang khusus untuk tidak dipindah, digeser atau dibawa oleh anak.
  2. Pilih bahan yang mencerminkan karakteristik tingkat usia anak.   Dalam mencari alat permainan kita  harus mempelajari  perkembangan dan ciri-ciri belajar anak sebagaimana karakteristik anak.
  3. Pilih alat atau bahan yang memiliki unsur multiguna. Alat   dan  bahan   mainan  ini  dapat  memenuhi    bermacam-macam tujuan     pengembangan        atau   jika    memungkinkan  seluruh    aspek perkembangan   anak   dan   dapat   dipergunakan   secara   fleksibel   dan   serba guna. Misalnya ketika anak bermain dengan balok ia akan berfikir untuk membangun sesuatu dari balok (kognitif) membolak-balik/mengeksploras balok tersebut (motorik halus) membuat bangunan baru/aneh (kreatif) atau kerjasama dengan temannya untuk menyusun balok (sosial).
  4. Alat    permainan     sebaiknya    beraneka    macam      sehingga    anak dapat bereksplorasi dengan berbagai macam alat permainan.
  5. Pilih    bahan     yang    dapat    memperluas       kesempatan      anak    untuk  menggunakannya dengan bermacam cara. Tingkat kesulitan sebaiknya disesuaikan dengan rentang usia anak.
  6.   Peralatan mainan tidak terlalu rapuh
  7. Pilih bahan yang tidak membedakan jenis kelamin dan tidak meniru-niru. Sebaiknya alat   atau    bahan    yang     dipilih   tidak   dibedakan     berdasarkan jenis  kelamin. Pada    anak   usia  dini   perlu   diperkenalkan     berbagai peran dan hal.
  8. Pilih alat dan bahan yang sesuai dengan filsafat dan nafas pendidikan.  Alat   dan   bahan   ini   sering   disebut   dengan   APE   (Alat   Permainan     Edukatif)   untuk   mendapatkan  dapat  berkonsultasi   dengan   seorang   ahli baik  , ahli  mainan,  pendidik    anak   psikolog    atau   perawat    anak   yang  profesional.

4.   Penggolongan kegiatan bermain anak berdasarkan dimensi perkembangan

Penggolongan kegiatan bermain sesuai dengan dimensi perkembangan anak menurut Gordon dalam Moeslichatoen (2004:37) dibagi dalam 4 golongan yaitu: “ Bermain secara soliter, bermain secara parallel, bermain secara asosiatif, dan bermain secara kooperatif”. Bermain soliter artinya bermain sendiri tanpa teman. Bermain parallel artinya  kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok anak dengan menggunakan alat permainan yang sama, tetapi masing-masing anak bermain sendiri. Bermain Asosiatif artinya anak bermain dalam permainan yang  sama tapi tidak ada peraturan. Sedangkan bermain kooperatif adalah Masing-masing anak memiliki peran tertentu guna mencapai tujuan bermain. Anak-anak dari kelompok usia akan menunjukan tahapan perkembangan bermain sosial yang berbeda-beda.

Penggolongan kegiatan bermain tersebut diatas dilakukan oleh anak-anak sesuai dengan perkembangan anak secara fitrah. Penggolongan tersebut merupakan tahapan-tahapan perkembangan bermain anak. Anak dapat bermain sendiri dengan bimbingan orang tua atau guru, permainan saling meniru dengan teman, bermain bersama dengan permainan yang mengandung unsur kompetisi. Perkembangan kecerdasan personal anak sangat dirasakan manfaatnya.

 Dalam proses permainan terdapat unsur aturan-aturan yang harus ditaati, mengerti orang lain, toleransi, kerjasama dan persahabatan. Oleh karena itu melalui permainan anak dapat dirangsang dan dilatih kecerdasan personalnya karena anak dapat berinteraksi sosial dan berempati.

5. Kegiatan bermain anak berdasarkan kegemaran

Kegiatan bermain berdasarkan pada kegemaran anak, dibagi menjadi 4 macam, yaitu:

  1. Bermain bebas dan spontan
  2. Bermain Pura-pura, dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk:
    1. Minat pada personifikasi (bicara pada boneka atau benda-benda mati)
    2. Bermain dengan menggunakan peralatan (minum dengan menggunakan cangkir kosong, dll)
    3. Bermain pura-pura dalam situasi tertentu, misalnya situasi dalam keluarga, tempat praktek dokter,dan sebagainya)

         Pola bermain pura-pura merupakan permainan untuk mengembangkan imajinatif anak yang sangat unik, bahkan terkadang kurang difahami oleh orang dewasa. Oleh karena itu sebaiknya orang dewasa disekitarnya dapat lebih faham dan mengembangkan secara maksimal kemampuan anak dalam berimajinasi tersebut.

  1. Bermain dengan cara membangun dan menyusun. Bermain dalam bentuk seperti ini sangat baik untuk mengembangakan kreativitas anak Setiap anak akan menggunakan imajinasinya membentuk atau membangun sesuatu mengikuti daya khayalnya. Anak akan merasa bangga dan akan menunjukan kreasinya kepada teman atau gurunya. Membangun dan menyusun ini bukan hanya dengan menggunakan alat bantu (APE-Alat Permainan Edukatif)), akan tetapi bentuk gambar, lukisan (finger painting), meronce, dll, merupakan bentuk lain dari kreatitivitas anak dalam hal membentuk dan membangun.
  1. Bertanding atau berolah Raga

     Bermain dengan jenis permainan yang mengandung unsur game atau pertandingan, baik juga dilakukan di sekolah. Permainan yang bermakna pertandingan hendaknya dilakukan dengan aturan sederhana dan jelas, dan usahakan tempo permainan tidak terlalu panjang. Berbagai kegiatan bermain yang megandung unsur pertandingan misalnya:

  1. Belajar mendengar dan menguasai kosa kata
  2. Belajar mendengar dan mengapresiasi nada musik
  3. Permainan yang menuntut penguasaan anak dalam hal menjodohkan (kartu Kuartet, Domino,dll)
  4. Permainan yang menuntut penguasaan koordinasi motorik halus
  1. Bahan dan Alat permainan sesuai dengan  Perkembangan Anak
  1. Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan  motorik anak.

Sebaiknya sekolah memiliki tempat atau ruang khusus untuk aktivitas motorik anak. Sebaiknya anak diberikan ruang untuk melatih gerakan otot kasarnya (seluncuran, besi-besi panjatan, ayunan, arena sepeda, dll).  Peralatan bermain yang beroda sebaiknya dapat digunakan oleh anak untuk mengembangkan aspek sosialnya. Anak bisa bermain bersama, bergantian, sehingga interaksi social dapat terjalin diantara mereka.

  1. Bahan dan peralatan bermain bagi perkembangan kognitif anak.

Kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain: Kemampuan mengenal, mengingat, berpikir konvergen, divergen, dan member penilaian. Kegiatan bermain dilakukan dengan cara mengamati dan mendengar.Bahan atau peralatan yang dibutuhkan hendaknya membantu dalm perkembangan anak dalam mengamati dan mendengarkan. Contohnya: Papan pasak kecil,menara gelang, balok ukur, dll

  1. Bahan dan peralatan bermain bagi pengembangan kreativitas anak.

Bermain dapat meningkatkan kreativitas anak. Kreativitas bagi anak-anak adalah suatu permainan. Anak-anak mampu membuat apa saja yang mengasyikan untuk menjadi permainan yang mengasyikan dirinya. Anak anak tidak terbelenggu oleh berbagai tabu, gengsi, dan aturan seperti permainan orang dewasa. Kreativitas adalah karakter standar yang dimiliki setiap orang sebagai suatu karunia Allah S W T, dan menjadikan manusia memiliki kelebihan dari mahlik Allah yang lainnya. Kreativitas harus terus distimulus agar dapat berkembang dengan baik. Permaina yang dilakukan bersama anak anak di sekolah sebaiknya perminan yang menantang kreatifitas anak secara maksimal.

  1. Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Bahasa Anak Usia Taman Kanak-Kanak .

Kemampuan berbahasa yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain bertujuan untuk:

  1. Menguasai bahasa reseptif (mendengar dan memahami apa yang didengar):
    1. Memahami perintah
    2. Menjawab pertanyaan
    3. Mengikuti urutan peristiwa
  2. Menguasai bahsa ekspresif yang meliputi:
    1. Menguasai kata-kata baru
    2. Menggunakan pola bicara orang dewasa
  1. Berkomunikasi secara verbal dengan orang lain: berbicara sendiri atau berbicara pada orang lain
  2. Keasyikan menggunakan bahasa
  1. Bahan dan Peralatan Bermain bagi Pengembangan Emosi Anak usia Taman Kanak-Kanak.

Hal penting dalam melakukan kegiatan untuk mengembangkan emosi diantaranya harus dapat :

  1. Meningkatkan kemampuan untuk memahami perasaan (dengan cara menyebutkan perasaan, menerima perasaan, mengekspresikan secara tepat, dan memahami perasaan orang lain
  2. Meningkatkan kemampuan berlatih membuat pertimbangan
  3. Meningkatkan kemampuan memahami perubahan
  4. Menyenangi diri sendiri

Bahan dan alat permainan yng dapat digunakan misalnya tanah liat/plastisin yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam bentuk, balok-balok mainan, memelihara hewan peliharaan, bermain drama,dan buku-buku cerita.

  1. Bahan dan peralatan bermain bagi Pengembangan Sosial Anak usia Taman Kanak-Kanak.

Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain harus bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak lain. Moeslichatoen (2004:56) menyatakan:

 Peralatan bermain dan permainan yang dilakukan sebaiknya dapat digunakan secara bersama atau permainan dapat dilakukan bersama agara memperoleh makna, diantaranya adalah:

  1. Setiap perbuatan yang dilakukan dalam interaksi dengan anak lain itu ada dampaknya
  2. Setiap tingkah laku sosial yang positif yang dapat diterima anak lain
  3. Setiap anak akan dapat melkukan keinginannya asal dilaksanakan secara secara wajar
  4. Setiap anak dapat menuntut haknya dengan cara yang dapat diterima anak lain
  5. Setiap anak dapat mengekspresikan perasaannya bila dilaksanakan dengan cara yang dapat diterima anak lain.

Mengamati pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial yang harus dicapai anak merupakan wujud dari pengoptimalan kecerdasan personal, khususnya Kecerdasan Interpersonal. Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa bermain merupakan bagian utama dari kehidupan anak. Dengan demikian wajar bila kebijakan Pemerintan Republik Indonesia di Bidang Pendidikan Prasekolah (RA/TK) menetapkan  bermain sebagai alat belajar utama bagi anak. Dalam kebijakan tersebut secara eksplisit dinyatakan sebagai berikut:

“ Bermain adalah sifat yang melekat lansung pada kodrat anak.  Jika ada anak yang tidak mau bermain, itu menunjukan adanya suatu kelainan dalam diri anak tersebut.  …  Mengabaikan kenyataan ini, apalagi mengingkari, jelas bertentangan dengan kebutuhan perkembangan jiwa anak” (Depdikbud, 1994/1995) dalam Solehuddin (2000:87).

          Kostelnik dalam montolalu (2008:105) mengemukakan tentang karakteristik bermain pada anak sebagai berikut:, ”Play is fun, not serious, meaningful, active, voluntary, intrinsically motivated, rule governed”. Selanjutnya Bergen (1988), mengemukakan terdapat empat kategori bermain, yaitu:

  1. Bermain bebas (free play). Dalam bermain bebas, anak memilih apapun yang dimainkannnya, bagaimana bermain, dan di mana mereka bermain. Bermain seperti ini menuntut para pendidik untuk menyediakan lingkungan yang aman, menyediakan berbagai peralatan dan bahan yang mendukung
  2. Bermain terbimbing (guided play). Bermain terbimbing memiliki aturan, lebih sedikit pilihan, dan adanya pengawasan dari orang dewasa.
  3. Bermain yang diarahkan (directed play). Dalam bermain ini kegiatan bermain ditentukan oleh orang dewasa.
  4. Work disguised play. Bermain ini menggambarkan kegiatan diorientasikan pada tugas tertentu, dan orang dewasa berusaha mentransformasikannya kedalam kegiatan bermain terbimbing atau yang diarahkan.

Dalam pengimplentasiannya para pendidik  dapat mengintegrasikan pendekatan belajar melalui bermain tersebut dalam metode-metode pembelajaran lain yang  digunakan misalnya bercakap-cakap, bercerita, karyawisata, sosiodrama atau bermain peran, proyek, eksperimen, tanya jawab, demonstrasi, dan pemberian tugas.

IMPLEMENTASI KEGIATAN PEMBELAJARAN MELALUI PERMAINAN

  1. Peran Guru dalam Kegiatan Bermain 

Bermain  merupakan upaya bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran dan perasaan  serta cara anak menjelajah lingkungannya. Bermain juga membantu anak untuk menjalin hubungan soial antar anak. Ketika anak mulai masuk ke suatu lembaga pendidikan prasekolah (TK/RA), anak-anak harus mulai bisa menempatkan diri pada posisi yang tepat, karena dalam beberapa hal kegiatan bermain di sekolah berbeda dengan kegiatan bermain di rumah. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Kegiatan Bermain di Sekolah Kegiatan Bermain di Rumah
Memiliki kesempatan bermain dalam kelompok yang lebih besar Kesempatan bermain dengan kelompok yang lebih kecil
Alat permainan lebih banyak dan beragam, misalnya jumalh balok lebih banyak, dll Alat permainan terbatas dan jumlahnya tidak banyak
Jenis/macam permainan lebih beragam Jenis/macam permainan lebih sedikit
Anak harus belajar belajar berbagi dengan teman-temannya Anak dapat menguasai permainannya sendiri tanpa harus berbagi dengan teman
Waktu untuk bermain terbatas karena waktu anak berada di sekolah hanya beberapa jam Waktu untuk bermain lebih bebas dan fleksibel sesuai dengan keinginan anak.
Setiap permainan memiliki kesepakatan/aturan bersama yang harus dipatuhi anak-anak Aturan permainan bebas ditentukan oleh anak sendiri

Tabel 1. Perbedaan Bermain di Sekolah dan di Rumah

Sebelum menjelaskan bagaimana guru mengelola pembelajaran melalui permainan, dibawah ini akan ditampilkan tabel Tingkat Perkembangan Bermain Sosial yang dikemukakan oleh Parten dalam Montolalu (2008:2.19) yang menjelaskan tentang 6 tahapan perkembangan bermain pada anak:

No Nama Tahapan Kegiatan Bermain
1 Unoccupied Mengamati kegiatan orang lain. Bermain dengan tubuhnya, naik turun tangga, berjalan kesana kemari tanpa tujuan bila tidak ada yang menarik perhatian dirinya.
2 Unlookers (berperilaku seperti penonton/pengamat) Mengamati, bertanya dan berbicara dengan anak lain, tetapi tidak ikut bermain. Berdiri dari kejauhan untuk melihat dan mendengarkan anak-anak lain bermain dan bercakap-cakap
3 Bermain Solitaire (bermain sendiri) Bermain sendiri dan tidak terlibat dengan anak lain. Bermain dengan mainannya sendiri merupakan tujuannya
4 Bermain Paralel Bermain berdampingan atau berdekatan dengan anak lain menggunakan alat, tatapi bermain sendiri. Tidak menggunakan alat-alat bersama, hanya berdampingan dengan anak lain, tidak berdampingan dengannya.
5 Bermain Associative Bermain dengan anak-anak lain dengan jenis permainan yang sama. Terjadi percakapan dan Tanya jawab serta saling meminjam alat permainan, tetapi tidak terlibat dalam kejasama, misalnya dalam kegiatan menggunting bentuk-bentuk gambar
6 Bermain Kooperatif (Group Play) Bermain bersama melakukan suatu proyek bersama, misalnya dalam permainan drama, permainan konstruktif membangun dengan balok sebuah kota atau melakukan permainan bersama yang ada unsure kalah-menang, bermain di bak pasir atau bermain bola kaki yang sederhana, petak umpet, dll

Cara mengembangkan motorik halus dengan menjahit

img-20150405-wa0008.jpg

Menjahit adalah pekerjaan menyambung kain, bulu, kulit binatang, pepagan, dan bahan-bahan lain yang bisa dilewati jarum jahit dan benang. Menjahit dapat dilakukan dengan tangan memakai jarum tangan atau dengan mesin jahit. Orang yang bekerja menjahit pakaian disebut penjahit. Penjahit pakaian pria disebut tailor, sedangkan penjahit pakaian wanita disebut modiste. Pendidikan menjahit dapat diperoleh di kursus menjahit atau sekolah mode.

Produk jahit-menjahit dapat berupa pakaian, tirai, kasur, seprai, taplak, kain pelapis mebel, dan kain pelapis jok. Benda-benda lain yang dijahit misalnya layar, bendera, tenda, sepatu, tas, dan sampul buku.

Di industri garmen, menjahit sebagian besar dilakukan memakai mesin jahit. Di rumah, orang menjahit memakai jarum tangan atau mesin jahit. Pekerjaan ringan yang melibatkan jahit-menjahit di rumah misalnya membetulkan jahitan yang terlepas, menisik pakaian, atau memasang kancing yang terlepas. Sebagai seni kriya, orang menjahit untuk membuat saputangan, serbet, bordir, hingga boneka isi dan kerajinan perca.

Cara mengembangkan motorik halus dengan mengunting

69a.jpg

Kegiatan menggunting merupakan kelanjutan dari tahap kegiatan meremas dan merobek kertas pada anak PAUD. Kegiatan menggunting dimaksudkan untuk melatih kemampuan motorik halus anak khusunya untuk melatih jari-jari anak melalui kegiatan menggunting dengan media gunting dan kertas dengan berbagai pola sesuai tahap perkembangan anak.
Anak perlu mengunting karena
a. Menggunting merupakan kegiatan yang sangat disukai anak
b.berguna untuk mengembangkan sensori motor
c.berguna untuk mengembangkan kekuatan otot tangan

d.berguna untuk mengembangkan kekuatan jari tangan


Tujuan mengunting adalah untuk mempersiapkan anak usia dini menuju pendidikan tahap selanjutnya khususnya kemampuan untuk menulis karena dalam menulis dibutuhkan kekuatan otot-otot jari-jari dan koordinasi mata dengan tangan yang dapat dilatih melalui mengunting.

Sebelum anak memasuki tahapan pengalaman menggunting, anak harus diberikan kegiatan-kegiatan awal yang difasilitasi orang tua atau pendidik, yaitu :
1. Kegiatan anak memungut benda-benda kecil
2. Kegiatan meremas
3. Kegiatan merobek dengan sepenuh tangan
4. Kegiatan merobek dengan jari.

Untuk kegiatan menggunting ini ada beberapa persiapan yang harus dilakukan pendidik atau orang tua di rumah yaitu :

1. Menyiapkan gunting
Untuk anak berilah gunting yang bagian depannya tumpul agar tidak membahayakan bagi anak.

2. Menyiapkan kertas yang akan digunting anak dengan persiapan kertas sebagai berikut :

  • Kertas polos (tidak diberi pola)
  • Kertas dengan pola garis sejajar penuh
  • Kertas dengan pola garis sejajar patah-patah
  • Kertas dengan garis zig zag
  • Kertas dengan pola garis lengkung
  • Kertas dengan pola lingkaran
  • Kertas dengan pola kompleks dengan bentuk-bentuk tertentu

Pola-pola kertas tersebut di atas disediakan untuk memfasilitasi tahap perkembangan menggunting anak yang berbeda-beda

3. Menyiapkan amplop
Amplop disiapkan untuk mendokumentasikan hasilguntingan anak, satu amplop untuk satu anak.

Pengertian motorik halus

Gerakan motorik halus mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan seni. Motorik halus adalah gerakan yang hanya melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu yang dilakukan oleh otot-otot kecil. Oleh karena itu gerakan motorik halus tidak terlalu membutuhkan tenaga, akan tetapi membutuhkan koordinasi yang cermat serta ketelitian.

Keterampilan motorik halus mulai berkembang, setelah diawali dengan kegiatan yang amat sederhana seperti memegang pensil, memegang sendok, dan mengaduk. Keterampilan motorik halus lebih lama pencapainnya dari pada keterampilan motorik kasar karena keterampilan motorik halus membutuhkan kemampuan yang lebih sulit misalnya konsentrasi, kontrol, kehati-hatian dan koordinasi otot tubuh yang satu dengan yang lain. Seiring dengan pertambahan usia anak, kepandaian anak akan kemampuan motorik halus semakin berkembang dan maju pesat.

Perkembangan motorik halus juga memiliki beberapa fungsi, diantaranya yaitu menurut Hurlock (Depdiknas, 2007 : 10) dalam buku pedoman pembelajaran seni yang mencatat beberapa alasan tentang fungsi perkembangan motorik bagi konstelasi perkembangan individu, yaitu :

Melalui keterampilan motorik, anak dapat menghibur dirinya dan memperoleh perasaan senang. Seperti anak merasa senang dengan memiliki keterampilan memainkan boneka, melempar bola atau memainkan mainan yang lainnya.
Melalui keterampilan motorik, anak dapat beranjak dari kondisi tidak berdaya pada bulan pertama kehidupannya, ke kondisi yang bebas dan tidak bergantung. Anak dapat bergerak dari satu tempat ke tempat yang lainnya, dan dapat berbuat sendiri untuk dirinya. Kondisi seperti ini akan menunjang perkembangan percaya diri anak.

Melalui keterampilan motorik, anak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sekolah. Pada usia pra sekolah atau usiadinianak sudah dapat dilatih menggambar, melukis, berbaris, dan persiapan menulis.

 

Kasih sayang

 

images

 

Kasih sayang adalah suatu sikap saling menghormati dan mengasihi semua ciptaan Tuhan baik mahluk hidup maupun benda mati seperti menyayangi diri sendiri sendiri berlandaskan hati nurani yang luhur. Kita sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya untuk terus memupuk rasa kasih sayang terhadap orang lain tanpa membedakan saudara , suku, ras, golongan, warna kulit, kedudukan sosial, jenis kelamin, dan tua atau muda.
Kasih Sayang dalam Keluarga
Keluarga adalah sebagai suatu kesatuan dan pergaulan yang paling awal. Sebagai satu kesatuan merupakan gabungan dari beberapa orang yang ditandai oleh hubungan genelogis dan psikologis yang saling ketergantungan dengan karakteristiknya yang berbeda. Jadi keluarga menggambarkan ikatan atau hubungan di antara anggota keluarganya yang diikat dengan berbagai sistem nilai.
Keluarga dalam bentuk apapun pada hakekatnya merupakan persekutuan hidup, dalam kedudukan inilah lahir berbagai fungsi keluarga. Keluarga merupakan bagian dari lingkungan kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang merupakan bagian dari masyarakat dan bangsa, oleh karena itu kekuatan suatu negara bersumber pada kekuatan keluarga, baik menyangkut kelancaran, keselamatan maupun kelangsungan hidup suatu keluarga. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam memelihara iklim emosional keluarga adalah dengan adanya sikap kerjasama dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarganya. kebutuhan-kebutuhan itu meliputi:
Kasih sayang adalah faktor yang cukup penting dalam kehidupan anak, kasih sayang tidak akan dirasakan oleh si anak apabila dalam kehidupannya mengalami hal-hal sebagai berikut :Kehilangan pemeliharaan orang tuanya, Anak merasa tidak diperhatikan , dan kurang disayangi., Orang tua terlalu ambisius dan otoriter, Orang tua yang mempunyai sikap yang berlawanan.
Seorang anak merasa diterima oleh orang tua apabila dia merasa bahwa kepentingannya diperhatikan serta merasa bahwa ada hubungan yang erat antara si anak dengan keluarganya. Anak yang merasa sungguh-sungguh dicintai oleh orang tua dan keluarganya pada umumnya akan merasa bahagia dan aman.
Setiap anak ingin merasa bahwa ia mempunyai tempat dalam keluarganya, dalam arti bahwa ia ingin diperhatikan, ingin agar ibu dan bapaknya, dan anggota keluarga lainnya mau mendengar dan tidak mengacuhkan apa yang dikatakannya
Kebutuhan yang dimaksud disini adalah kebebasan dalam batas-batas kewajaran. Pada umumnya anak menginginkan kebebasan dari orang tuanya dalam hal melakukan berbagai aktifitas dan memiliki teman bergaul. – See more at: http://ilfen.blogspot.co.id/2012/03/pengertian-kasih-sayang.html#sthash.qtPEdjhZ.dpuf

Melempar

images

  1. buang jauh-jauh;
    batu sembunyi tangan, pb berbuat kurang baik kpd orang, lalu berpura-pura tidak tahu;
    cakram olahraga melempar cakram; — lembing olahraga melempar lembing; — martil lontar martil; — peluru tolak peluru; — tangan ki menyerahkan tanggung jawab kpd orang lain sehingga yg bersangkutan seolah-olah bebas dr tanggung jawab: insiden yg telah mencuat menjadi isu nasional itu, kini menimbulkan kesan adanya saling — tangan di antara para pejabat pemerintah;
    ber·lem·par-lem·par·an v saling melempar;
    me·lem·par v 1 membuang jauh-jauh; 2 melontari (dgn): anak itu ~ rumah dng batu;
    me·lem·par·kan v 1 membuang jauh-jauh; melontarkan; melantingkan: ia ~ buah itu ke tengah kolam; 2 melepaskan (tuduhan, kritik, dsb): ia pernah ~ kritik thd tindakan pengurus; ia selalu ~ tuduhan yg bukan-bukan;
    lem·par·an n hasil melempar: genting rumah itu banyak pecah karena ~ anak-anak;
    pe·lem·par n 1 orang yg melempar: siapa ~ nya hingga kaca-kaca jendela rumah ini pecah semua; 2 alat untuk melempar: batu ~ anjing; 3 alat untuk melemparkan: pesawat ~ bom; 4 orang yg ikut dl olahraga lempar-melempar (spt melempar lembing, melempar cakram);
    se·pe·lem·par n sejauh orang melempar (tt jarak);
    lem·par-lem·par·an v berlempar-lemparan